KBCNews Cianjur Senin, 25 Mei 2026 | 19:12 WIB
Pengecoran jalan sepanjang 150 meter di Kampung Cilenjang, Desa Sukamulya, menjadi bukti nyata realisasi Program Gorol Pemkab Cianjur untuk meningkatkan aksesibilitas dan mendukung aktivitas ekonomi warga.
Pengecoran jalan sepanjang 150 meter di Kampung Cilenjang, Desa Sukamulya, menjadi bukti nyata realisasi Program Gorol Pemkab Cianjur untuk meningkatkan aksesibilitas dan mendukung aktivitas ekonomi warga.
Di atas kertas, jalan-jalan desa di Kabupaten Cianjur tampak mulus: angka-angka rapi, pagu anggaran utuh, dan laporan pekerjaan yang seolah tak menyisakan lubang. Di lapangan, ceritanya sedikit berbeda—yang berlubang bukan hanya jalan, tapi juga volumenya.
Program yang akrab dipanggil “gorol” singkatan yang terdengar hangat seperti gotong royong ternyata menyimpan dingin dalam laporan audit. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Jawa Barat menemukan sedikitnya 50 paket pekerjaan pada 2025 di Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Cianjur mengalami kelebihan bayar atau kekurangan volume. Bahasa halus untuk sesuatu yang, dalam praktiknya, berarti pekerjaan tak sepenuhnya beres meski dananya sudah terlanjur pergi.
Baca Juga:
PUTR Cianjur: Ahlinya Merugikan Rakyat
Ambil contoh di Kampung Sindangeret, RT 04/RW 05, Desa Babakan Sari, Kecamatan Sukaluyu. Proyek cor beton senilai Rp 199,5 juta itu tercatat kehilangan volume hingga Rp 49 juta lebih. Hampir seperempat nilai pekerjaan menguap—tanpa perlu sihir, cukup dengan pengukuran yang tak lagi presisi.
Di lokasi lain, RW 05–06 Desa Gunung Sari, kontrak senilai Rp 174,1 juta menyusut Rp 35,3 juta dalam bentuk kekurangan volume. Angka-angka itu tidak berdiri sendiri. Ia berbaris rapi bersama puluhan paket lain, membentuk pola yang tak kalah rapi: dokumen penuh, realisasi setengah.
Program yang dirancang untuk mendekatkan pembangunan kepada warga, melalui skema swadaya tipe 1, justru memperlihatkan paradoks lama. Ketika semua boleh terlibat, pengawasan sering kali ikut terbagi. Dan ketika tanggung jawab tersebar, akuntabilitas justru menghilang seperti volume yang tak pernah benar-benar tercor.
Baca Juga:
Program Gorol Perbaiki Infrastruktur Jalan di Desa Sukamulya
Kepala Dinas PUTR Cianjur, Eri Rihandiar, menjelaskan bahwa “gorol” hanyalah istilah populer. Dalam dokumen resmi, program itu bernama rehabilitasi atau pemeliharaan jalan. Dikelola tanpa penyedia jasa, pekerjaan melibatkan pegawai dinas dan warga yang ingin berpartisipasi.
Barangkali di situlah letak ironi yang paling jujur: semangat gotong royong tetap utuh sebagai konsep, namun di lapangan, yang benar-benar “gotong” justru anggarannya—pelan-pelan diangkat, sedikit demi sedikit, hingga yang tersisa hanya jalan yang setengah jadi dan laporan yang tetap terlihat sempurna.
Editor: sandi irawan
