Jakarta – Pemerintah menggelar perayaan Imlek Nasional sebagai wujud komitmen memperkuat persatuan dan harmoni antarumat beragama di Indonesia. Perhelatan tersebut berlangsung dalam suasana Ramadan, sehingga dinilai menjadi simbol toleransi dan kebersamaan dalam keberagaman.
Kegiatan Imlek Nasional yang difasilitasi pemerintah itu melibatkan berbagai unsur masyarakat, tokoh lintas agama, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan Tionghoa. Momentum ini disebut sebagai cerminan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang terus dijaga di tengah dinamika sosial.
Perayaan Tahun Baru Imlek sendiri merupakan tradisi penting bagi umat Konghucu dan masyarakat Tionghoa. Sejak ditetapkan sebagai hari libur nasional pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, perayaan Imlek semakin terbuka dan dirayakan secara luas di ruang publik.
Dalam sambutannya, perwakilan pemerintah menekankan bahwa perayaan Imlek di bulan Ramadan bukan sekadar agenda seremonial, tetapi pesan kuat tentang harmonisasi dan saling menghormati antarumat beragama. Nilai kebersamaan, gotong royong, serta saling berbagi disebut sejalan dengan semangat Ramadan maupun ajaran dalam tradisi Imlek.
Sejumlah tokoh lintas agama yang hadir juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Mereka menilai, kolaborasi perayaan budaya dan keagamaan di ruang publik memperkuat fondasi toleransi serta memperkecil potensi gesekan sosial.
Acara tersebut diisi dengan pertunjukan seni budaya, doa lintas agama, serta kegiatan sosial sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat. Pemerintah berharap momentum ini menjadi contoh nyata bahwa keberagaman Indonesia adalah kekuatan, bukan perbedaan yang memecah belah.
Dengan digelarnya Imlek Nasional di tengah Ramadan, pemerintah menegaskan komitmennya menjaga persatuan nasional melalui pendekatan budaya, dialog, dan penghormatan terhadap seluruh keyakinan yang hidup di Tanah Air.
